LATEST NEWS

(Catatan dari Pinggir Sungai Ciliwung)

 


 

'Mari jadikan Sungai Ciliwung bukan sebagai tempat pembuangan sampah, namun sebagai Front Door, sehingga bisa menjadi River View yang menjadi pusat kegiatan generasi muda.'

 

Hal tersebut diungkapkan oleh Wakil Gubernur Jawa Barat, Dede Yusuf, di dalam sambutannya ketika membuka acara Bebersih Sungai Ciliwung pada tanggal 29 Juni lalu. Acara ini merupakan buah kerja sama Baladkuring, BPLHD Jawa Barat, Pemerintah Kabupaten Bogor, serta komunitas-komunitas peduli lingkungan di wilayah Bogor seperti Komunitas Peduli Ciliwung, Tree Grower Community, Rimbauan Muda Indonesia, Lawalata IPB, Green Earth, dan Printing Community. 

Paradigma menjadikan sungai sebagai 'halaman depan' atau 'muka rumah' memang belum populer di Indonesia. Oleh karena itu, tidak heran jika selama ini masyarakat kita masih terbiasa untuk membuang sampah sekenanya ke sungai, karena dianggap sebagai 'halaman belakang' yang cenderung kurang dianggap penting. Fenomena ini sering kita temui di sungai-sungai yang membelah suatu kota, apalagi apabila di tepi sungai terdapat pemukiman penduduk. Padahal jika kita mengetahui potensi ekologis daerah riparian atau tepi sungai sebagai sumber bio-diversitas, maupun potensi ekonominya dari segi pariwisata (tengok saja daerah Clarke Quay di Singapura yang terletak di tepi Singapore River yang kini ramai menjadi pusat kegiatan ekonomi dan pariwisata), Baladkuring yakin, pemerintah tidak akan segan-segan untuk mencurahkan fokusnya untuk mengembangkan daerah riparian yang lebih baik. Hal ini tentu saja membutuhkan juga partisipasi masyarakat. 

Sebuah penelitian yang bertajuk "Community Participation in Riverfront Development" ("Partisipasi Komunitas dalam Pengembangan Muka Sungai") dilakukan di kawasan tepi Ohio River, sebuah sungai di negara bagian Ohio, Amerika Serikat. Pada penelitian tersebut, masyarakat diajak berpartisipasi untuk merancang ulang wilayah tepi sungai Ohio melalui proses brainstorming, survey, serta workshop yang akhirnya menghasilkan sebuah proposal desain ulang kawasan tepi sungai sebagai objek rekreasi dan pusat aktivitas masyarakat. Proyek ini hanyalah salah satu dari sekian banyak contoh pelibatan masyarakat dalam pembangunan lingkungan tepi sungai yang tidak hanya tepat sasaran, tetapi juga berkelanjutan. Pelibatan masyarakat dalam upaya pemerintah untuk melestarikan lingkungan melalui kegiatan semacam ini tentu akan lebih efektif dalam meningkatkan kesadaran masyarakat untuk turut berpartisipasi dalam memelihara dan menjaga fasilitas tersebut.

Dalam kasus Bebersih Sungai Ciliwung yang diselenggarakan Juni lalu, memang, acara tersebut bisa dianggap berhasil karena mampu merangkul segala elemen masyarakat mulai dari siswa-siswi Sekolah Dasar dan Menengah, mahasiswa, masyarakat sekitar, hingga elemen pemerintah. Namun dari segi keberlanjutan, sesungguhnya masih banyak PR untuk negeri ini. Membangkitkan kesadaran masyarakat akan pentingnya daerah aliran sungai memerlukan proses pembelajaran yang tidak hanya responsif, seperti membersihkan sungai ketika sampah sudah menumpuk; tetapi juga preventif: bagaimana caranya mencegah sampah mengotori daerah aliran sungai? Untuk mampu mencapai kesadaran ini, diperlukan kreativitas pemerintah beserta seluruh elemen masyarakat dalam mencari solusi yang efektif dan berkelanjutan berkaitan masalah lingkungan, serta didukung oleh akuntabilitas penentu kebijakan lingkungan. 

Kuncinya adalah partisipasi aktif, edukasi masyarakat sebagai gerbangnya untuk bergerak menuju visi atau tujuan yang ingin dicapai: Kelestarian lingkungan hidup di Jawa Barat yang berkelanjutan. Ketika kita mau bersama-sama mencari solusi dari masalah ini, niscaya bangsa ini akan menjadi selangkah lebih maju. Setidaknya, upaya pelestarian lingkungan akan lebih dipandang serius, bukan sekedar seremonial belaka.

 

Language: English

Bahasa Indonesia

Subscribe

Newsletter Subscribe



Events

Twitter